pendhapaartspace.com © 2018 - All rights reserved.

Home     About PAS     Facilities     Gallery     Events     Programs     Services     Contact

Home      About PAS      Facilities      Gallery      Events      Programs      Services      Contact

“Pendhapa (pendopo) yaitu bangunan pada bagian depan rumah yang terbuka dengan empat tiang (saka guru) yang merupakan tempat tuan rumah menyambut dan menerima tamu-tamunya. Bangunan ini umumnya memiliki bentuk persegi tanpa dinding dan besar. Selain fungsi utama sebagai tempat menerima tamu, bangunan ini difungsikan pula sebagai tempat pertemuan, latihan tari atau karawitan, dan sebagainya.”

Pendhapa Art Space atau lebih dikenal dengan sebutan PAS awalnya adalah anak perusahaan dari CV. SATIAJI MANDIRI atau lebih dikenal sebagai Studio Satiaji Sculpture & Artwork yang bergerak di bidang perusahaan pembuatan seni tiga dimensi. Pendhapa Art Space mulai dibangun bertahap dan dirancang sendiri oleh Dunadi (perupa tiga dimensi dan pemilik serta berperan sebagai Board PAS) pada tahun 2006, pada awalnya Pendhapa Art Space bernama Pendopo Sapto Aji dan merupakan gedung serbaguna yang mulai dibuka untuk umum pada tahun 2011, dan menjadi art space pada tahun 2012. Tahun 2015 memulai menginisiasi program seni secara mandiri bernama STARTUP.

Mulai tahun 2016, Pendhapa Art Space terdaftar menjadi badan usaha mandiri yang bergerak dalam bidang kegiatan kesenian dan kebudayaan. Pengembangan menjadi art space ini merupakan mimpi besar Dunadi, yaitu “membuat sebuah ruang yang didedikasikan untuk dunia seni dan masyarakat lokal maupun internasional”.

Pendhapa Art Space juga berinisiasi membuat program-program seni budaya berupa pameran, pertunjukan tari, dan teater, diskusi seni, workshop seni, dan lain sebagainya, baik program-program mandiri ataupun program-program yang bekerjasama dengan komunitas atau institusi seni budaya yang ada di Yogyakarta, maupun mancanegara.

Pemilik

Tentang PAS

Dunadi

Sebagai pemilik PAS dan seniman patung, Dunadi memiliki kapasitas multidimensional. Dia mampu bekerja tidak hanya secara individu sebagai seorang seniman murni dengan memamerkan karyanya di galeri, namun juga bersama banyak orang dengan kompleksitas tinggi. Dia sangat responsif terhadap situasi di sekitarnya. Karya pribadinya membawa kita ke dalam wacana tentang krisis psikososial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Pemilik dan penggerak Studio Satiaji Sculpture & Artwork, dikenal sebagai pematung monumen. Karya-karya monumental Dunadi terpajang hampir di setiap sudut kota di Indonesia, beberapa terpajang di Eropa dan Asia.

Ong Hari Wahyu

Ong Hari Wahyu adalah seorang seniman visual Indonesia, art director, dan juga penggerak seni masyarakat. Ong meraih predikat The Best Art Director dalam Festival Film Indonesia untuk film “Daun di Atas Bantal” (1996) yang disturadarai oleh Garin Nugroho. Ong juga telah menciptakan ratusan karya pada sampul buku untuk banyak penerbit.

Bimo Wiwohatmo

Bimo Wiwohatmo adalah seorang koreografer, ia belajar seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta, Bimo mendalami seni pertunjukan di Studio Seni Tari Bagong Kussudiardja. Dia telah menciptakan lusinan komposisi yang telah dilakukan di negara-negara termasuk Korea dan Jepang (ASIATRI).

Koes Yuliadi

Koes Yuliadi, kuliah di teater dan menyukai penulisan skenario. 1999-2000 dinyatakan sebagai penulis skenario terbaik versi Dewan Kesenian Jakarta. Kini banyak melakukan penelitian di Bali dan membuat film2 personal berdasar riset budaya.

Sri Krishna Encik

Sri Krishna Encik adalah musisi folk balad. Aktif sebagai pemain gitar akustik, penyanyi, penata musik, pencipta lagu, dan sering melakukan kolaborasi dengan musisi juga seniman visual lainnya. Musisi bergelar sarjana hukum yang juga bermain di beberapa film dan menjadi terkenal sebagai musisi setelah meluncurkan album "Low Budget".

Board